Salam

Video Pilihan Jiwa islam

Anti Zionist

Gambar-Gambar

al-Quran

Listen to Quran

    Tuesday, August 17, 2010

    Renungilah

    Renungan 







    Haram-haramkah aku

    Bila hatiku jatuh cinta
    Tuhan pegangi hatiku
    Biar aku tak jadi melanggar

    Aku cinta pada dirinya
    Cinta pada pandang pertama
    Sifat manusia ada padaku
    Aku bukan Tuhan

    Haram-haramkah aku
    Bila aku terus menantinya
    Biar waktu berakhir
    Bumi dan langit berantakan

    Aku tetap ingin dirinya
    Tak mungkin aku berdusta
    Hanya Tuhan yang bisa jadikan
    Yang tak mungkin menjadi mungkin






    Aku hanya ingin cinta yang halal
    Di mata dunia juga akhirat
    Biar aku sepi aku hampa aku basi
    Tuhan sayang aku
    Aku hanya ingin cinta yang halal
    Dengan dia tentu atas ijinNya
    Ketika cinta bertasbih
    Tuhan beri aku cinta
    Ku menanti cinta…

    moga kita dapat renungkan bersama...

    Friday, August 13, 2010

    al-Ghazali pandang sisi Hamka

    Ihya' Ulumiddin (al-Ihya') sebuah nama besar. Hujjatul Islam al-Imam al-Ghazali juga sebuah nama besar. Orang besar menghasilkan karya besar iaitu al-Ihya'. Kedua-duanya, baik al-Imam al-Ghazali atau al-Ihya' sejak beliau menjadi bintang tidak pernah kering dari disebut orang hingga ke hari ini.Malah mungkin untuk hari-hari seterusnya. Kedua-duanya adalah bintang di persada sejarah sepanjang zaman.

    Bermacam usaha untuk menutup-nutup keduanya sepanjang sejarah, namun kalau memang yang empunya diri ada kekuatan tersendiri usaha itu sia-sia sahaja. Al-Ghazali dan al-Ihya'-nya telah melalui pelbagai peringkat zaman dan setakat hari ini ibarat kata masih 'ditolak tak rebah'.

    Baru-baru ini taukeh gedung kitab terbesar di Pulau Pinang menawarkan kitab al-Ihya' terjemahan Indon dengan harga yang saya tidak boleh menolaknya sama sekali. Ada 8 jilid. Saya ambil. Saya pernah bergelumang dengan al-Ihya' lama dahulu, sewaktu zaman remaja saya. Kini al-Ihya' berada semula ke pangkuan saya.

    Maulana Mohd Asri ketika ditanya tentang status hadis di dalam al-Ihya', dijawabnya, al-Ihya' bukan kitab Hadis, jadi ia perlu di'layan' sebagai ia bukan kitab hadis. Ia tidak fokus kepada penelitian hadis. ia fokus kepada benda-benda lain. Orang yang mahu menelaahnya hendaklah bukan sebarangan orang. Hendaklah orang yang tahu selok-belok ilmu hadis.

    Dim lights Embed " readonly="readonly" style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 4px; padding-top: 1px; padding-right: 1px; padding-bottom: 1px; padding-left: 1px; width: 150px; height: 12px; line-height: 14px; font-size: 10px; background-image: initial; background-attachment: initial; background-origin: initial; background-clip: initial; background-color: rgb(34, 34, 34); border-top-width: 1px; border-right-width: 1px; border-bottom-width: 1px; border-left-width: 1px; border-top-style: solid; border-right-style: solid; border-bottom-style: solid; border-left-style: solid; border-top-color: rgb(31, 31, 31); border-right-color: rgb(31, 31, 31); border-bottom-color: rgb(31, 31, 31); border-left-color: rgb(31, 31, 31); font-family: Tahoma, Geneva, sans-serif; ">

    Di bawah ini pula, saya petik kata-kata alu-aluan Dr HAMKA untuk terjemahan al-Ihya' Indon. Ia ditulis pada 
    Desember 1963.Antara lain beliau berkata:Dan yang lebih penting lagi, sebagai seorang ahli pikir yang bebas dan besar, beliau membebaskan pikirannya dari pengaruh penafsir-penafsir yang terdahulu daripadanya, tetapi hadits-hadits yang dijadikannya dalil, kerapkali tidak memperhatikan ilmu sanad hadits, sehingga sebagaimana ditulis oleh ayahku dan guruku Syaikh Abdulkarim Amrullah dalam bukunya Sullamul Ushul membaca Ihya' musti hati-hati, karena banyak haditsnya lemah.




    Sambutan Al-Ustadz Al-Fadlil Dr. H.A. Malik Karim Amrullah (Dr.HAMKA)

    SAMBUTAN TERJEMAHAN IHYA' ULUMIDDIN

    Kitab Ihya' Ulumiddin, buah tangan Al-Imam Al-Ghazali adalah salah satu karya besar dari beliau dan salah satu karya besar dalam perpustakaan Islam. Meskipun ada berpuluh lagi karangan Ghazali yang lain, dalam berbagai bidang ilmu Pengetahuan Islam, namun yang menjadi inti-sari dari seluruh karangan-karangan beliau itu ialah Kitab Ihya' Ulumiddin.

    Beliau pilih untuk menjadi judul nama bukunya Ihya' Ulumiddin, artinya ialah: MENGHIDUPKAN KEMBALI PENGETAHUAN AGAMA.

    Sebabnya maka itu judul yang beliau pilih, ialah karena pada waktu itu ilmu-ilmu Islam sudah hampir teledor oleh ilmu yang lain, terutama oleh filsafat Yunani, khusus Filsafat Aristoteles te lah disambut dengan amat asyiknya oleh ahli-ahli fikir Islam, yang dipelopori oleh Al-Farabi, Ibnu Sina dan lain-lain di Timur dan ke mudian menjalar pula ke Barat (Andalusia dan Afrika Utara), sesu dah Ghazali, yang dipelopori oleh Ibnu Rusyd.

    Filsafat Yunani itu pada waktu itu dinamai 'Ulumul Awail, artinya Pengetahuan orang zaman purbakala.

    Oleh sebab Islam sangat berlapang dada menerima segala macam ilmu pengetahuan ataupun hikmat, walau dari manapun datang nya, maka dalam abad-abad kedua dan ketiga hijriyah, teruta ma di zaman permulaan fajar Daulat Bani `Abbas, banyaklah pe ngetahuan lain bangsa disalin ke dalam bahasa Arab, guna memper kaya perpustakaan dan buah pikiran Arab Islam sendiri. Sebab ke majuan Islam dan Daulah Islamiyah dalam lapangan politik dan pengaruh kebudayaan, tidaklah akan dapat bertahan lama kalau pemikiran dari sarjana-sarjana tidak meluas dan mendalam.

    Majulah Islam dalam lapangan fiqhi, ilmu kalam, tasawwuf dan filsafat. Tetapi kadang-kadang Ilmu Islam yang asli telah teledor oleh karena kemajuan dalam bidang yang tersebut di belakang ini, yakni filsafat. Al-Ghazali telah tampil ke muka mempersiapkan dirinya dengan ilmu-ilmu yang ada pada masa itu. Beliau memper dalam Ilmu -Kalam, beliau memperdalam fiqhi (Ilmu Hukum) dan perhatian beliau akhirnya amat tertarik kepada Filsafat sampai di pelajarinya pula amat mendalam. Hasil dan buah dari penyelidik annya terhadap Filsafat itu telah diungkapkannya dalam buku-bu kunya "Al-Munqidzu minadl dlalal" (Pembangkit dari lembah ke sesatan), "Maqashid al-Falasifah" (Tujuan dari pada para Failasoof) dan "Tahafut al-Falasifah" (Kekacau-balauan para Failasoof).

    Beliau — setelah pengembaraan dalam alam pikiran yang menda lam itu— telah menyatakan kesimpulan bahwa filsafat itu, baik juga untuk melatih kita berfikir. Tetapi jadi amat berbahaya kalau sekiranya pikiran yang akan dipergunakan bagi berfilsafat tidak terlatih terlebih dahulu dengan tuntunan Wahyu Ilahi dan tuntunan Nabi. Ada orang mengatakan bahwa berfikir filsafat itu harus bebas, obyektif, jangan ada yang mempengaruhi terlebih da hulu. Tetapi kenyataan menunjukkan bahwa tidaklah ada seorang manusiapun yang dapat membebaskan dirinya dari pada pengaruh alam dikelilingnya. Apakah lagi — menurut Ghazali — Failasoof-Failasoof Yunani yang mempengaruhi berfikirnya Failasoof-Faila soof Muslim seumpama Al-Farabi dan Ibnu Sina, karena penera wangan berfikir bebas itu, telah sampai kepada kesimpulan bahwa Alam itu adalah qodim penaka Tuhan juga. Disini Filsafat sudah menjauh sendirinya dari pada pokok ajaran agama.

    Lantaran itu maka Ghazalipun amat menyuruh hati-hati di da lam belajar 'Ilmul Kalam, IIlmu Theologi dalam Islam. Untuk orang awam —kata beliau— 'Ilmul Kalam itu lebih besar bahayanya daripada manfaatnya, sehingga beliau keluarkan sebuah risalah ber nama "Iljamul 'Awam" (Mengekang orang awam) dari pada mem bicarakan Ilmu Kalam. Iman kepada Allah— menurut Ghazali- ti daklah dapat dengan dipelajari secara "akal semata", melainkan hendaklah karena dirasakan, demi setelah meleburkan diri keda lam persada Alam yang ada dikeliling kita.

    Setelah nyata bahwa dengan filsafat bukan, dengan 'Ilmul Kalam bukan, dengan debat-berdebat (jidal) Ilmu Fiqhi-pun bukan, ma­nakah jalan yang dapat mencapai kepada Tuhan itu?

    Ghazali akhirnya berpendapat bahwa mendekati Tuhan, merasa adanya Tuhan dan ma'rifat kepada Tuhan, hanya dapat dicapai dengan menempuh satu jalan, yaitu jalan yang ditempuh oleh kaum Shufi.

    Ghazalipun insyaf bahwasanya di zamannya pertentangan kaum syari'ah amat besar dengan kaum Shufi atau kaum Hakikat. Kaum Fuqaha menghabiskan waktunya di dalam membincangkan syah dan bathal, dengan mengabaikan perhatian kepada kehalusan perasaan, sedang kaum Shufi saling terlalu memupuk perasaan (dzauq) kadang-kadang tidak memperdulikan mana amalan, ibadat dan syari'at yang sesuai dengan Sunnah Rasul dan mana yang tidak.

    Tasawwuf perlu untuk memupuk perasaan halus manusia, atau `athifah. Tetapi kadang-kadang terlanjur keluar dari garis syari'at. Syari'at perlu untuk mengatur kehidupan sehari-hari menurut jalan Rasul, tetapi kadang-kadang menjadi kaku dan kehilangan intisari karena hanya tunduk kepada yang tertulis belaka sehingga kebebas an manusia buat berfikir, buat merasa dan buat berfantasi menjadi hilang.

    Syari'at tanpa hakikat, menjadi bangkai tak bernyawa. Hakikat tanpa syari'at menjadi nyawa tak bertubuh.

    Ghazali berusaha mempersatu-padukan keduanya. Dengan dasar itulah beliau ingin menghidupkan kembali Ilmu Agama: IHYA' 'ULUMIDDIN.

    Dengan bersumber kepada Al-Quran, dengan kembali kepada Sunnah Rasul yang asli, kita bongkar dan kita gali ilmu yang sejati. Di dalamnya terkandunglah hikmat-hikmat yang tinggi, yang kadang-kadang mungkin dapat dinamai filsafat, kadang-kadang dapat dinamai Ilmul Kalam, Fiqhi dan lain-lain, apatah lagi buat mengetahui rahasia yang terkandung dalam hati (Asroril-Qulub).

    Apabila ilmu telah dihidupkan kembali, syari'at mesti bertemu dengan hakikat, amal saleh mesti dinyawai oleh Iman dan di sam­ping riadlah jasmani (latihan badan) kita adalah riadlah annafs atau riadlah qalb (latihan jiwa atau latihan hati). Disitulah kita mendapat "Haqiqat al Hajah (hidup yang sejati).

    Sejak daripada ibadat, sembahyang, puasa, zakat dan hajji, sampai kepada mu'amalat (pergaulan hidup manusia sehari-hari), sampai kepada munakahat (pembangunan rumah tangga), sampai kepada hukum-hukum pidana, semuanya beliau cari isi dan umbinya,inti atau sarinya dalam alam hakikat dan hikmat, sehingga hidup kita sebagai muslim berarti lahir dan bathin.

    Maka kitab "IHYA' 'ULUMIDDIN" adalah hasil karya positif sesu dah beliau ragu (syak, sceptis) terhadap segala persoalan dalam bidang kepercayaan dan akhirnya keraguan itu sedikit demi sedikit mulai hilang, berganti dengan yakin. Dan itulah yang beliau hidang kan ke dalam masyarakat muslim.

    Sebagai seorang ahli fiqih Islam yang besar, karangan beliau ini mendapat sambutan hangat. Mendapat sanjung puji yang tinggi dan juga mendapat sanggahan yang hebat.

    Di zaman pemerintahan Sultan Yusuf bin Tasyfin di negeri Maghribi di Fas (Fez) kaum Fuqaha sangat murka kepada Ghazali, sebab karangannya Ihya' 'Ulumiddin banyak mengeritik kaum ahli fiqhi, yang sudah menjauh daripada Al-Qur'an dan hanya tengge lam ke dalam taqlid. Fuqaha marah, sehingga mengusulkan kepada Sulthan supaya Ihya' dibakar saja dan dilarang keras peredarannya ke Maghribi. Di kala disampaikan orang berita itu kepada Ghazali serta-merta beliau berkata: "Tuhan akan merobek kerajaan mereka sebagaimana mereka telah merobek kitabku".

    Tiba-tiba muncullah dalam majlis itu, murid beliau Muhammad bin Taumrut, yang bergelar Al-Mahdi, lalu berkata : "Wahai Imam! Doakanlah kepada Tuhan bahwa keruntuhan kerajaan Bani Tasyfin akan terjadi di tangan saya".

    Kemudian memang jatuhlah kerajaan Murabithin, digantikan oleh murid Imam Ghazali yang bernama Muhammad bin Taumrut itu, dengan nama Kerajaan Muwahhidin. Bila Imam Ghazali menge tahui bahwa muridnyalah yang menjadi raja, dan kitab beliau telah diakui kembali di negeri itu, beliau berniat hendak hijrah ke Magh ribi. Sayang sekali sebelum beliau berangkat, beliau meninggal du nia tahun 505 H. dalam usia 55 tahun.

    "Ihya' 'Ulumiddin" adalah salah satu karya besar, yang diakui besar fikiran yang terkandung di dalamnya. Ds. Zwemmer, to koh sending Kristen yang terkenal, berpendapat bahwa sesudah Nabi Muhammad saw. adalah dua Pribadi yang amat besar jasanya menegakkan Islam, pertama Imam Bukhari karena pengumpulan Haditsnya, kedua Imam Ghazali karena "Ihya'-nya".

    Segala sesuatu apabila telah tercapai kesempurnaannya, nam paklah di mana kekurangannya. "Tanda gading yang tulen, ialah retaknya". Alam ini sendiri menjadi amat sempurna, karena serba kekurangannya. Tuhan mencipta 'Alam dalam kesempurna­annya, karena ada kekurangannya. Kalau tidak ada yang cacat niscaya Allah Ta'ala tidak kaya karena tidak menjadikan sesuatu yang bernama cacat.

    Demikian juga kitab-kitab karangan Ghazali terutama Ihya' 'Ulu middin ini. Kadang-kadang beliau, lantaran asyiknya memperi­ngatkan kesucian hidup, telah jatuh kepada bersangatan mencela dunia. Orang yang terpengaruh oleh ajaran Ghazali tentang cacat dunia, maulah rasanya mengutuk sama sekali dunia itu. Mengutuk dunia bisa menyebabkan dunia itu lepas dari tangan kita, hingga dipungut oleh orang lain, sehingga negara-negara Islam terjajah.

    Kadang-kadang beliau menganjurkan hidup membujang, tak usah beristeri. Supaya beban hidup dalam munajat kepada Tuhan menjadi ringan, padahal ajaran asli Islam tidak mengajarkan demikian.

    Dan yang lebih penting lagi, sebagai seorang ahli pikir yang bebas dan besar, beliau membebaskan pikirannya dari pengaruh penafsir-penafsir yang terdahulu daripadanya, tetapi hadits-hadits yang dijadikannya dalil, kerapkali tidak memperhatikan ilmu sanad hadits, sehingga sebagaimana ditulis oleh ayahku dan guruku Syaikh Abdulkarim Amrullah dalam bukunya Sullamul Ushul membaca Ihya' musti hati-hati, karena banyak haditsnya lemah.

    Itulah menjadi bukti bahwasanya seorang sarjana atau seorang failasoof yang besar tidaklah melengkapi ilmunya dalam segala -bidang. Ghazali lemah dalam ilmu hadits, tetapi dia besar dalam penciptaan fikiran. Sebagaimana juga Ulama-Ulama Ahli Hadits, kebanyakannya tidak sanggup buat menciptakan fiqhi atau menge luarkan faham bebas, sebab amat terikat oleh hadits-hadits, sehing ga fikirannya menjadi buntu karena kekuatan hafalan.

    Perhatikan kepada ajaran Filsafat Ethika (Akhlaq) Al-Ghazali sampai saat-saat sekarang ini masih menjadi bahan yang kaya untuk direnungkan. Setengah ahli selidik dan orientalist Barat ber pendapat bahwa keragu-raguan Descartes adalah pengaruh keragu-raguan Ghazali. Ragu (skeptis, syak) adalah tangga utama menuju yakin. Pada tahun 1924 Zaki Mubarak di Mesir mencapai gelar Doktornya karena kritiknya yang bernama "Akhlaq menurut Ghazali" yang sebagai seorang sarjana yang masih muda dia menghantam ajaran Ghazali sebagai suatu ajaran yang menyebabkan jiwa melempem. Tetapi setelah dia berusia lebih 40 tahun dikeluarkan nya pula promosinya untuk gelar doktor yang ketiga-kalinya berna ma "Tasawwuf Islam", yang kalau dibaca, ternyata bahwa pukulannya kepada Ghazali khasnya dan Tasawwuf 'amnya, tidak sekeras dahulu lagi. Di tahun 1947 Dr. Sulaiman Dunia Maha Guru Filsafat dan 'ilmu Kalam di Al-Azhar University mengeluarkan lagi study nya "Hakikat menurut pandangan Ghazali ". Ditahun terakhir sam pai tahun 1963 masih tetap ada sarjana Islam yang meninjaunya kembali.

    Kupasan Ghazali tidak akan habis-habisnya menjadi bahan study tentang tasawwuf, tentang aqidah, tentang filsafat dan ethika (akhlaq).

    Demikian itulah selayang pandang saya tentang IHYA' 'ULUMID DIN oleh "Hujjatul Islam" Al-Ghazali.

    Di dalam perkembangan ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam di Indo nesia, tasawwuf Imam Ghazali dengan Ihya'-nya besar sekali peranannya. Madzhab Sunni yang masuk kemari sejak zaman kera jaan Islam Pasai ialah Madzhab Syafi i. Imam Ghazali adalah seo rang Ulama Muta-akhkhirin dalam madzhab itu.

    Tasawwuf "Wihdatul Wujud" (Pantheisme) Al-Hallaj yang mu lanya amat berpengaruh di sini menjadi terdesak karena datang nya ajaran Ghazali. Kitab Ihya' `Ulumiddin menjadi pegangan ula ma-ulama di tanah air kita. Syaikh Abdus Samad Al-Falimbani diu­jung abad kedelapan belas telah mengambil inti-sari kitab Ihya` dan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia (Melayu Lama) dengan nama "Sairus-Salikin". Demikian juga terdapat dalam karangan-karangan Ulama-ulama Aceh. Kitab Ihya` pun telah disarikan oleh Ulama-ulama di Jawa ke bahasa Jawa huruf Pegon. Dizaman mo dern ini, saya sendiri amat banyak mengambil buah renungan Gha zali untuk buku saya "Tasawwuf Modern". Tetapi belum ada usa ha selama ini menyalin kitab yang besar 4 jilid itu ke dalam bahasa Indonesia modern.

    Tiba-tiba pada bulan Rajab 1383 Hijriyah, bertepatan dengan hari-hari peringatan Isro' dan Mi'roj Nabi Muhammad saw. seorang Ulama Muda dari Aceh, yang telah lama saya kenal, yaitu Tengku Haji Ismail Yakub MA-SH, telah datang kerumah saya memperlihatkan salinan (terjemahan) Kitab Ihya' Ulumiddin ke dalam bahasa Indonesia yang beliau kerjakan sendiri dan meminta saya supaya sudi memberikan kata sambutan atas usahanya yang amat berharga itu.

    Tidak pelak lagi kalau saya bergembira menyambut usaha beliau itu. Perhatian kepada Islam dan inti ajarannya di zaman seka­rang telah mulai besar di tanahair kita ini. Banyak kaum terpe lajar secara Barat mulai memperhatikan Islam. Banyak mereka mendengar nama kitab Ihya' atau membaca adanya kitab itu dari kalangan Orientalist Barat, sayang mereka tidak mengetahui bahasa Arab. Terjemahan Ustadz Tengku H. Ismail Yakub ini sudah dapat memuaskan dahaga mereka.

    Banyak telah berdiri Perguruan Tinggi Islam. Sayangnya mahasiswa kebanyakan lemah bahasa Arabnya. Dengan salinannya Ihya' mereka sudah dapat membandingkan fikiran ciptaan Failasoof Islam ini dengan aliran-aliran filsafat yang lain. Baik Filsafat Yunani atau Filsafat Scholastik Kristen atau Filsafat Modern.

    Mubaligh-mubaligh pun mendapat banyak bahan untuk study. Dan lebih dari itu semuanya dengan membaca salinan Ihya' ini, dengan sendirinya moga-moga isinya yang bernas dapat mempe ngaruhi jiwa kita, sehingga kita dapat menjadi seorang Muslim yang tha'at dan cinta kepada Allah dan Rasul Allah.

    Dalam pembangunan bangsa kita sekarang ini, yang kita seba gai Muslim amat ingin agar Islam menjadi unsur mutlak dalam pefnbangunan itu, maka terjemahan Ihya' Ulumiddin ke dalam bahasa Indonsia oleh Ustadz Tk. H. Ismail Yakub MA-SH., adalah satu karya yang amat saya pujikan.

    Moga-moga Tuhan Allah memberi taufiq kita bersama dalam menuju ridlaNya.

    Dr. H.A. Malik KarimAmrullah
    Kebayoran Baru, Jakarta: Rajab 1383. 
    Desember 1963.

    Mazhab


    Mazhab (مذهب) ialah bahagian pemikiran atau fiqah dalam Islam.
    Dalam Islam sebenarnya ada banyak mazhab. Hal ini kerana ulama yang berkemampuan dari kalangan sahabat Nabi, tabiin dan tabi’ Al-Tabiin yang mempunyai cukup syarat dan keperluan berijtihad adalah ramai.
    Bagaimanapun, mengikut pendapat ulama Sunni, mazhab muktabar yang boleh dibuat pendapat dan beramal untuk umum cuma empat mazhab, mengikut qaul yang rajih.
    Bagi Islam Sunah, terdapat 4 mazhab iaitu Syafie, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Keempat-empat mazhab ini mempunyai peraturan, kaedah dan panduan yang sempurna lagi lengkap yang ditulis oleh mereka dalam kitab masing-masing. Ia menjadi bahan tidak ternilai dalam perbendaharaan undang-undang Islam. Mazhab lain, tidak mempunyai kaedah cukup yang dibukukan untuk dijadikan panduan dalam bidang perundangan sebagaimana yang empat tadi. Umat Islam di Malaysia, Brunei, Filipina, Thailand dan Indonesia kebanyakannya mengikuti mazhab Syafie.
    Bagi Islam Syiah pula, ada tiga mazhab utama iaitu Jaafari, Ismaili dan Zaidi.
    Mazhab dalam Kristian pula seringkali disebut denominasi.

    Isi kandungan

     [sorok]

    [sunting]Ahli Sunnah wal Jamaah

    [sunting]Mazhab Hanafi

    Untuk rencana penuh, lihat Mazhab Hanafi
    Mazhab Hanafi diasaskan oleh Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 Hijrah. Beliau adalah seorang berjiwa besar dan berakhlak tinggi. Beliau seorang yang bijak dalam ilmu pengetahuan. Cekap memberikan satu-satu keputusan bagi masalah yang dihadapi.
    Oleh kerana beliau seorang berpengetahuan, bijak dan berakhlak mulia, maka dapat membuat perhubungan rapat dengan pembesar negara.
    Beliau mendapat tempat baik dalam masyarakat dan berjaya menyandang jawatan tinggi dalam pemerintahan.
    Iman Abu Hanifah terkenal sebagai seorang alim dalam ilmu fiqh di Iraq. Beliau juga sebagai ketua ahli fikir (ahli ra’u). Golongan cerdik pandai pada masa itu menyifatkan beliau sebagai "akal dalam ilmu pengetahuan."
    Ketika hayatnya, beliau dapat mengikuti pelbagai perkembangan ilmu pengetahuan, baik di bidang ilmu dan politik mahupun ilmu agama. Zaman beliau dikenali sebagai zaman pertumbuhan politik, agama serta ideologi dan ism yang pelbagai.
    Beliau dapat hidup dalam dua zaman pemerintahan Umaiyyah dan Abbasiyah.
    Sesungguhnya Abu Hanifah seorang yang luas pemikiran dan banyak ilmu. Tetapi beliau sangat merendah diri. Beliau tidak terpedaya dengan fikirannya sendiri
    Mazhab Hanafi turut digelar mazhab yang sangat rasional

    [sunting]Mazhab Maliki

    Untuk rencana penuh, lihat Mazhab Maliki
    Pengasas mazhab Maliki ialah Malik Bin Anas. Beliau lahir di kota Madinah pada tahun 93 hijrah.
    Imam Malik dilahirkan 13 tahun selepas kelahiran Imam Abu Hanifah. Sewaktu hidupnya, Iman Malik mengalami dua corak pemerintahan iaitu Ummaiyah dan Abbasiyah, di mana pertelingkahan sengit dua pemerintahan sering berlaku.Pada masa itu juga pengaruh ilmu pengetahuan Arab, Parsi dan Hindi tumbuh dengan suburnya di kalangan masyarakat. Iman Malik menghafaz al-Quran dan hadis Rasulullah. Ingatannya sangat kuat. Beliau mendengar hadis daripada guru. Kemudian terus disimpulkan tali bagi menyenangkan perhitungan bilangan hadis yang pelajarinya.

    Pada permulaan hidupnya, Imam Malik bercita-cita menjadi biduan tetapi ibunya menasihatkan supaya beliau memadam hasrat itu. Ibunya kemudian mahukan anaknya mempelajari ilmu fiqh. Beliau menerima nasihat ibunya dengan baik. Iman Malik adalah seorang guru miskin. Pernah suatu hari, kayu bumbungnya rumahnya roboh. Beliau kemudian menjual kayu itu untuk mendapat sedikit wang untuk perbelanjaan hidupnya. Namun, Allah murahkan rezekinya hingga menjadi kaya. Dengan kedudukan itu, beliau memakai pakaian mahal dan bau-bauan yang baik. Imam Malik adalah seorang yang cergas dalam menuntut ilmu.

    Beliau banyak membuat hubungan dengan ahli hadis dan ulama. Imam Malik dianggap sebagai ketua atau imam bagi ilmu hadis. Sanad (sandaran) yang dibawa oleh beliau, termasuk salah satu sanad terbaik dan benar. Imam Malik adalah seorang yang dipercayai, adil dan kuat ingatannya serta cermat dan halus memilih rawi-rawi hadis. Pendek kata, Imam Malik adalah orang yang tidak diragui dalam konteks ini. Imam Malik tetap berpegang teguh pada ajaran Rasulullah bahawa hadis itu petunjuk dan penyuluh kepada manusia. Seseorang tidak harus meninggal dan membelakangkannya.

    Sebelum Imam Malik menjadi guru, beliau terlebih dahulu mendalami ilmu yang dipelajarinya hingga kadang-kala tidak tidur. Selepas fikirannya matang dan benar-benar berkebolehan, barulah beliau mengajar. Hukum fiqh yang diberikan oleh Imam Malik berdasarkan al-Quran dan hadis. Imam Malik menjadikan hadis sebagai pembantu bagi memahami al-Quran. Beliau juga sangat cermat dalam memberi penerangan dan hukum. Imam Malik berfikir panjang sebelum memberi satu-satu hukum atau fatwa.

    Beliau pernah berkata: “Kadang-kala aku berjaga satu malam suntuk untuk mencari jawapan bagi satu-satu soalan yang dikemukakan kepada aku.” Apabila beliau ditanya satu-satu hukum, beliau terus berkata kepada penanya : “Pulanglah dulu supaya aku dapat berfikir.” Ramai manusia merendah-rendahkan Imam Malik kerana beliau melewat-lewatkan menjawab sebarang pertanyaan. Imam Malik menangis dan berkata “Aku bimbang kerana aku akan disoal satu hari nanti (hari kiamat)”.
    Mazhab Maliki turut digelar sebagai mazhab yang terlalu tradisional

    [sunting]Mazhab Syafie

    Untuk rencana penuh, lihat Mazhab Syafie
    Mazhab Syafie diasaskan oleh Muhamad bin Idris Al-Syafie. Beliau dilahirkan pada tahun 150 hijrah di sebuah bandar yang bernama Ghizah di Palestin.
    Inilah tarikh paling masyhur dikalangan ahli sejarah.
    Imam Syafie adalah keturunan Bani Hashim dan Abdul Mutalib. Keturunannya bertemu dengan keturunan Rasulullah di sebelah datuk Baginda iaitu Abdul Manaf.
    Beliau seorang miskin, tetapi kaya dengan semangat dan bercita-cita tinggi dalam menuntut ilmu. Beliau banyak mengembara dalam menceduk dan menimba ilmu.
    Imam Syafie dianggap seorang yang dapat memadukan antara hadis dan fikiran serta membentuk undang-undang fiqh. Pada permulaannya beliau cenderung dalam bidang sastera dan syair, tetapi mengubah pendiriannya kepada mempelajari ilmu fiqh dan hadis hingga ke tahap paling tinggi.
    Imam Syafie ialah imam ketiga mengikut susunan tarikh kelahiran mazhab empat serangkai.
    Beliau adalah penyokong kepada ilmu hadis dan pembaharuan agama (mujaddid) bagi abad yang ke-2 hijrah. Imam Ahmad Bin Hanbal pernah berkata: “Diceritakan kepada Nabi Muhamad bahawa Allah menghantar kepada umat ini seorang pembaharu kepada agama, Umar Bin Abdul Aziz dihantar untuk abad yang pertama dan aku harap Imam Syafie adalah mujadid abad yang kedua.”
    Ketika muda, Imam Syafie, hidup dalam kemiskinan, hingga beliau terpaksa mengumpul batu-batu, belulang, pelepah tamar dan tulang untuk ditulis di atasnya. Beliau kadang-kala terpaksa ke tempat perhimpunan orang ramai meminta kertas untuk menulis pelajarannya.
    Imam Syafie menghafaz al-Quran dengan mudah iaitu ketika masih kecil lagi. Beliau menghafaz dan menulis hadis.
    Beliau sangat tekun mempelajari kaedah dan nahu bahasa Arab. Untuk itu, beliau pernah mengembara ke kampung dan tinggal bersama puak Hazyal selama 10 tahun. Hal ini kerana puak Hazyl terkenal sebagai kabilah yang paling baik bahasa Arabnya.
    Imam Syafie banyak menghafaz syair dan qasidah daripada puak Hazyl. Beliau juga banyak menumpukan masa dan tenaganya kepada sastera dan sejarah pada masa mudanya. Namun, Allah menghendaki dan melorongkan kepadanya dalam bidang ilmu fikah.
    Antara sebabnya, pada suatu hari Imam Syafie bersyair sambil menunggang kuda bersama seorang lelaki. Lalu berkata lelaki itu : “Tidak sesuai engkau bersyair kerana itu boleh menjatuhkan maruah. Alangkah baiknya belajar ilmu fiqh?”
    Kata-kata itu sangat memberi kesan kepada Imam Syafie. Sejak itu beliau menumpukan masa dan tenaga kepada ilmu fiqh.
    Salah seorang guru Imam Syafie dalam pelajaran ilmu fiqh dan hadis ialah Imam Malik. Antara guru Imam Syafie selain Imam Malik ialah mufti dan faqih Mekah iaitu Muslim bin Khalid az-Zanji, dan Syaikhul Muhaddisin Sufyan bin Uyaynah.
    Ilmu fiqh yang dibawa oleh Imam Syafie adalah satu zaman perkembangan ilmu fiqh dalam sejarah perundangan Islam. Hal ini kerana beliau yang menghimpun atau menyatukan ilmu fiqh ahli akal dan fikir dengan ilmu fiqh ahli akal dan hadis.
    Ilmu fiqh Imam Syafie adalah ikatan sunnah dan qias serta pemikiran dengan beberapa pertimbangan dan sekatan. Hal ini demikian kerana ilmu fiqh yang menetapkan cara atau peraturan untuk memahami al-Quran dan hadis. Ia juga menetapkan kaedah pengeluaran hukum dan kesimpulannya.
    Lantaran itulah beliau berhak dianggap penaja bagi ilmu usul fiqh.
    Mazhab Syafie merupakan jalan tengah bagi Mazhab Hanafi dan Mazhab Maliki. Imam Syafie sendiri pernah berfahaman Maliki dan Hanafi.

    [sunting]Mazhab Hanbali

    Untuk rencana penuh, lihat Mazhab Hanbali,
    Pengasas mazhab Hanbali ialah Ahmad bin Mohamad bin Hanbal. Beliau lahir di bandar Baghdad pada tahun 164 hijrah.
    Ibnu Hanbal dari keluarga miskin. Sewaktu bapanya meninggal dunia, keluarganya tidak ditinggalkan harta yang banyak kecuali sebuah rumah kecil yang didiaminya. Untuk menampung kehidupan, beliau terpaksa bekerja di kedai jahit.
    Ibnu Hanbal menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Beliau mempelajari hadis hingga menjadi seorang imam.
    Seseorang pernah berkata kepadanya: “Sampai bilakah engkau hendak menuntut ilmu? Padahal engkau sudah mencapai darjat paling tinggi dan engkau telah menjadi imam bagi seluruh umat Islam?”
    Imam Ibnu Hanbal menjawab: “Aku menuntut ilmu dari hujung dunia hingga ke pintu kubur.”
    Memang benar beliau tidak pernah jemu menuntut ilmu sepanjang hayatnya.
    Imam Syafie adalah salah seorang guru beliau. Ibnu Hanbal bertemu Imam Syafie di Hijaz, sewaktu beliau menunaikan haji. Pada waktu itu, Imam Syafie mengajar di Masjidil Haram.
    Ibnu Hanbal mempelajari ilmu daripadanya. Mereka kemudian bertemu kali kedua di Baghdad. Imam Syafie menasihatinya supaya mengikutnya ke Mesir. Imam Ibnu Hanbal bercadang mengikutinya tetapi niatnya tidak kesampaian.

    [sunting]Syi'ah

    Rencana utama: Syi'ah
    Syi'ah atau lebih dikenal lengkapnya dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali pada awal mula perkembangannya juga banyak memiliki aliran. Namun demikian hanya tiga aliran yang masih ada sampai sekarang, yaitu Itsna 'Asyariah (paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah. Di dalam keyakinan utama Syi'ah, Ali bin Abu Thalib dan anak-cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai khalifah dan imam bagi kaum muslimin. Di antara ketiga mazhab Syi'ah terdapat perbezaan dalam hal siapa saja yang menjadi imam dan pengganti para imam tersebut.

    [sunting]Mazhab Jaafariyyah

    Rencana utama: Jaafariyyah
    Mazhab Ja'fari atau Imam Dua Belas (Itsna 'Asyariah) adalah mazhab dengan penganut yang terbesar dalam Muslim Syi'ah. Dinisbatkan kepada Imam ke-6, iaitu Ja'far ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali bin Husainbin Ali bin Abi Thalib. Keimaman kemudian berlanjut yaitu sampai Muhammad al-Mahdi bin Hasan al-Asykari bin Ali al-Hadi bin Muhammad al-Jawad bin Ali ar-Ridha bin Musa al-Kadzim bin Ja'far ash-Shadiq. Mazhab ini menjadi mazhab rasmi Negara Republik Islam Iran.

    [sunting]Mazhab Ismailiyyah

    Rencana utama: Ismailiyah
    Ismailiyah adalah mazhab dengan jumlah penganut kedua terbesar dalam Islam Syi'ah, selepas mazhab Imam Dua Belas (Ithna 'Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini kerana penerimaan mereka ke atas keimaman Isma'il bin Ja'far sebagai pewaris dari Ja'far ash-Shadiq. Pengikut mazhab Ithna 'Asyariah, di lain pihak menerima Musa al-Kadzim sebagai Imam mereka. Baik Ismailiyah mahupun Ithna 'Asyariah sama-sama menerima keenam enam Imam Syi'ah terdahulu, sehingga memiliki banyak persamaan pandangan atas sejarah awal mazhabnya.

    [sunting]Mazhab Zaidiyah

    Rencana utama: Zaidiyah
    Mazhab Zaidi atau Mazhab Lima Imam berpendapat bahwa Zaid bin Ali merupakan pengganti yang berhak atas keimaman dari ayahnya Ali Zainal Abidin, saudara tirinya, Muhammad al-Baqir. Dinisbatkan kepadaZaid bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Setelah kematian imam ke-4, Ali Zainal Abidin, yang ditunjuk sebagai imam selanjutnya adalah anak sulung beliau yang bernama Muhammad al-Baqir, yang kemudian diteruskan oleh Ja'far ash-ShadiqZaid bin Ali menyatakan bahawa imam itu harus melawan penguasa yang zalim dengan pedang. Setelah Zaid bin Ali syahid pada masa Bani Umaiyyah, beliau digantikan anaknyaYahya bin Zaid.

    [sunting]Lihat juga

    [sunting]Pautan Luar

    Iklan

    Renungan

    Tanpa Kepedihan dan Kesengsaraan Kita Akan Membuang Perkara Yang Indah Dengan Sia-Sia Sahaja Tanpa Memberi Kesan Kepada Iman Kita Renungkanlah ... Ingatilah Nabi Adam a.s Sehingga Nabi Muhammad s.a.w Berjaya Atas Kepedihan dan Kesengsaraan Yang Lebih Hebat Dari Kita ... Maka Itu Kesabaran Sahaja Yang Membentengkan Kita Untuk Kita Tidak Terkeluar Dari Landasan...

    I Hate Israel

    Zionists in Israel Doing With Severe and extreme violence
    Why do we Muslims and Muslimat just let them continue to suffer
    Which we love them though God has given this love as our weapon to subvert the Zionist Israel
    Not enough just to pray, shout anti Israel boycott their goods and making protest signs protest their atrocities.
    We need to unite regardless of status, race, mentality, national and political as well as Muslim and Muslimat Let us together to destroy and overthrow the Jews of Israel continued the beatings our brothers in Palestine
    Let not our guard again, it emerged as the Sultan Salahuddin Ayub in Jerusalem.
    Remember we have the golden age of Islam were we take the history of the Prophet in all previous wars are the strategy for eliminating the al-Kafirun the plight of Muslims before
    Do not just let it alone and wait for God to help us we need to pray, work, effort and puteri. Then we wait for God's blessings on our efforts.

    Ingatan Kalian dan JiwaIslam

    Nature Future

    Nature Future
    Menjana Pendapatan

    Job At Home

     

    Elken

    Elken
    Jana Pendapatan

    Bicara Secara Maya

    Halwa Jiwa Islam 1

    لامن جيوا دان نوراني إسلام Copyright © 2009 Community is Designed by Bie