Salam

Video Pilihan Jiwa islam

Anti Zionist

Gambar-Gambar

al-Quran

Listen to Quran

    Friday, April 30, 2010

    Proses Kematian

    Proses Kematian
    Proses Kematian Proses Sakaratul Maut




    “Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kamu tangisi boleh berbicara, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kamu sekelian, niscaya kamu akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kamu sendiri”.
    (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan)


    Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :

    1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.




    Katakanlah:
    “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”.
    Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.
    (QS Ali Imran, 3:154)


    2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kukuh atau berlindung di balik teknologi kedoktoran yang canggih serta ratusan doktor terbaik yang ada di muka bumi ini.




    Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kukuh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.


    Katakanlah:
    “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?
    (QS An-Nisa 4:7 8)


    3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari dan menghindar.




    Katakanlah:
    “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.
    (QS al-Jumu’ah, 62: 8)


    4. Kematian datang secara tiba-tiba.




    Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
    (QS, Luqman 31:34)


    5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat



    Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

    (QS, Al-Munafiqun, 63:11)


    Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut

    Sabda Rasulullah SAW:



    “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)

    “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)


    Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW

    Ka’b al-Ahbar berpendapat :
    “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

    Imam Ghozali berpendapat :
    “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bahagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat saraf, sendi, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

    Imam Ghozali juga mengambil satu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka dapat mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang lelaki yang muncul dari salah satu kubur.

    “Wahai manusia !”, kata lelaki tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.” Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeza untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang.

    Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan, seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi. Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam  rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup.

    Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab. Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim.


    mati

    Allah SWT pun memperlihatkan gambaran rupa Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pengsan tak sedarkan diri. Setelah sedar, Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

    Kisah ini menggambarkan bahawa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

    Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita. Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,
    (sambil berkata):


    “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)

    (Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata);


    “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

    Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal.
    Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata


    “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

    Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat.
    Rasulullah SAW pernah bersabda,


    “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.

    Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka,


    “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!

    Sakaratul Maut Orang-orang Yang BertaqwaSebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum. Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:



    “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?”
    Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik.

    Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki.

    Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.

    (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)


    Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan syurga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya


    “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.


    kebangkitan

    Wallahu a’lam bish-shawab.
    Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
    Allahumma Amin..

    Thursday, April 29, 2010

    Hukum Fiqh ( Qiyas )

     

    Pengenalan Ringkas Kepada Ilmu Ushul al-Fiqh
    al-Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin

    15- Al-Qiyas (Penyamaan)
    Definisi

    Dari sudut Bahasa Arab al-Qiyas ialah anggaran dan penyamaan. Dari sudut istilah al-Qiyas ialah:

    Menyamakan cabang dengan asal dalam hukum berdasarkan sebab yang merangkumi kedua-duanya.

    Penjelasan lanjut tentang definisi di atas adalah seperti berikut:

    Maksud cabang ialah perkara yang diqiyaskan.

    Maksud asal ialah yang diqiyaskan kepadanya.

    Maksud hukum ialah wajib, haram , sah , fasad dan lain-lain yang ditentukan oleh dalil Syara'.

    Maksud sebab ialah perkara yang menjadi punca bagi hukum sesuatu asal.

    Empat perkara ini adalah merupakan rukun-rukun al-Qiyas.

    Al-Qiyas (persamaan) adalah salah satu dalil-dalil yang terpancar darinya hukum-hukum Syara'. Ianya telah disahkan sebagai dalil Syara' oleh al-Quran, al-Sunnah dan kata-kata sahabat.

    Dalil daripada al-Quran

    1- Firman Allah Ta‘ala (al-Syura 42:17) - Maksudnya: Allahlah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan).

    Al-Mizan (neraca) ialah apa yang digunakan untuk menimbang perkara-perkara dan untuk dibuat ukuran di antaranya.

    2- Firman Allah Ta‘ala (al-Anbiya 21:104) - Maksudnya: Sebagaimana Kami telah memulakan penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.

    Firman Allah lagi (Fatir 35:9) - Maksudnya: Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan. Demikianlah kebangkitan itu.

    Allah Ta‘ala telah menyamakan antara pembangkitan makhluk dengan permulaan penciptaannya dan menyamakan antara penghidupan semula mayat-mayat dengan penghidupan bumi. Inilah yang dinamakan al-Qiyas (penyamaan).

    Dalil daripada al-Sunnah:

    1- Sabda Rasulullah s.a.w. dalam menjawab pertanyaan seorang wanita yang bertanyakan tentang berpuasa untuk ibunya selepas ibunya wafat:

    أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ فَقَضَيْتِيهِ أَكَانَ يُؤَدِّي ذَلِكِ عَنْهَا

    قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَصُومِي عَنْ أُمِّكِ.[1]

    Maksudnya: Apa pandangan kamu sekiranya ibu kamu mempunyai hutang, adakah bayaran kamu akan melangsaikannya? Jawabnya Ya. Sabda Baginda: Maka berpuasalah bagi pihak ibumu.

    2 - Sesungguhnya seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah s.a.w. seraya berkata:

    يَا رَسُولَ اللَّهِ وُلِدَ لِي غُلاَمٌ أَسْوَدُ فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ قَالَ نَعَمْ
    قَالَ مَا أَلْوَانُهَا قَالَ حُمْرٌ


    قَالَ هَلْ فِيهَا مِنْ أَوْرَقَ قَالَ نَعَمْ
    قَالَ فَأَنَّى ذَلِكَ قَالَ لَعَلَّهُ نَزَعَهُ عِرْقٌ قَالَ فَلَعَلَّ ابْنَكَ هَذَا نَزَعَهُ.[2]

    Maksudnya: Wahai Rasulullah, aku telah dikurniakan seorang anak hitam. Baginda berkata: Adakah kamu memiliki unta? Jawabnya: Ya. Baginda berkata: Apakah warnanya? Jawabnya: Kemerahan. Baginda berkata: Wujudkah di antaranya yang berwarna kelabu? Jawabnya: Ya. Baginda berkata: Bagaimanakah ini berlaku? Jawabnya: Mungkin itu ada dalam keturunan terdahulu. Baginda berkata: Jadi, kemungkinan warna anakmu ini ada dalam keturunannya yang terdahulu.

    Di samping itu, sebenarnya semua contoh-contoh dalil dalam al-Quran dan al-Sunnah merupakan dalil untuk al-Qiyas (penyamaan) kerana ianya mengandungi penyamaan sesuatu perkara dengan perkara yang menyerupainya.

    Dalil daripada kata-kata Sahabat:

    Sebuah riwayat tentang Umar bin al-Khattab di mana terdapat di dalam utusannya kepada Abu Musa al-Asy’ari berkenaan penghukuman, katanya, "Kemudian pentingkanlah kefahaman dan penghayatan terhadap masalah yang sampai kepadamu yang tidak terdapat hukumnya di dalam al-Quran dan al-Sunnah, lalu hendaklah kamu qiyaskan (pertimbangkan) perkara-perkara itu dan hendaklah kamu ketahui perkara-perkara yang seakan-akan sama, lalu hendaklah kamu cenderung menurut pandangan kamu kepada yang paling disukai oleh Allah Ta'ala dan merupakan yang terdekat kepada kebenaran."

    Ibnu al-Qayyim telah berkata, "Ini merupakan satu utusan agung yang telah diterima pakai oleh para ulamak."

    Al-Muzani pula telah menyatakan bahawa para al-Fuqaha’ dari zaman para sahabat sehinggalah ke zamannya telah berijmak bahawa perkara yang menyerupai kebenaran adalah kebenaran dan perkara yang menyerupai kebatilan adalah kebatilan. Mereka juga telah mengguna pakai al-Qiyas (penyamaan) untuk fiqh dalam semua hukum.

    Syarat-syarat al-Qiyas (Penyamaan)

    Al-Qiyas mempunyai beberapa syarat seperti berikut:

    1. Tidak boleh bercanggahan dengan dalil yang lebih kuat daripadanya. Sekiranya al-Qiyas menyalahi nas, al-Ijma' dan kata-kata sahabat (di sisi mereka yang menganggapnya hujah), ianya adalah tertolak dan dinamakan Qiyas Fasid al-I'tibar (rosak pengiktirafannya). Contohnya: al-Qiyas yang mengatakan bahawa adalah sah seseorang wanita itu mengahwinkan dirinya tanpa wali berdasarkan kepada sahnya dia menjual beli hartanya tanpa wali. Ini merupakan al-Qiyas yang rosak pengiktirafannya kerana ianya bercanggahan dengan nas iaitu sabda Rasulullah s.a.w.:

    لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ.[3]
    Maksudnya: Tiada nikah kecuali dengan wali.

    2. Hukum asal mestilah sabit dengan nas atau al-Ijma'. Sekiranya hukum asal sabit dengan al-Qiyas lain, tidak boleh dibuat al-Qiyas lain berdasarkan asal itu. Akan tetapi boleh dibuat al-Qiyas kepada asal yang pertama kerana merujuk kepadanya adalah lebih utama. Juga kerana kemungkinan tidak sah diqiyaskan cabang kepada asal kedua. Juga kerana membuat al-Qiyas kepada cabang kemudian diqiyaskan pula cabang itu kepada asal merupakan pemanjangan yang tidak berfaedah. Contohnya dikatakan bahawa riba terdapat dalam urusan jagung kerana diqiyaskan kepada beras. Riba terdapat juga dalam urusan beras kerana diqiyaskan kepada gandum. Al-Qiyas seperti ini tidak sah. Sebaliknya hendaklah terus dinyatakan bahawa riba terdapat dalam urusan jagung kerana diqiyaskan kepada gandum, supaya al-Qiyas dilakukan terus kepada asal yang sabit dengan nas.

    3. Hukum asal mestilah mempunyai sebab yang diketahui supaya dapat dikumpulkan antara asal dengan cabang dalam sebab itu. Sekiranya hukum asal berunsur ibadah semata-mata, tidak sah dibuat alQiyas ke atasnya. Contohnya dikatakan bahawa daging burung unta membatalkan wuduk kerana diqiyaskan kepada daging unta disebabkan kedua-duanya ada persamaan. Al-Qiyas ini tidak sah kerana hukum asal tidak mempunyai sebab yang diketahui, sebaliknya ianya berunsur ibadah di sisi kebanyakan ulama'.

    4. Sebab mestilah merupakan erti yang berkaitan dengan hukum, yang dapat diketahui pengiktirafannya daripada kaedah Syara', seperti mabuk dalam khamr (arak). Sekiranya erti tersebut merupakan suatu sifat yang kebetulan, yang tidak mempunyai munasabah dengan hukum, tidak sah dijadikannya sebab kepada hukum, seperti warna hitam atau putih. Contohnya ialah hadith Ibnu Abbas bahawa selepas Barirah dibebaskan, beliau telah diberi pilihan ke atas suaminya. Ibnu Abbas berkata:

    كَانَ زَوْجُ بَرِيرَةَ عَبْدًا أَسْوَدَ.[4]
    Maksudnya: “Dan suaminya adalah seorang hamba hitam”.

    Sifat hitam yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas merupakan satu sifat yang kebetulan dan tidak mempunyai kaitan dengan hukum. Jadi, seorang hamba perempuan yang dibebaskan tetap diberi pilihan ke atas suaminya yang masih hamba walaupun dia berkulit putih. Dia juga tetap tidak diberi pilihan ke atas suaminya sekiranya suaminya merdeka dan berkulit hitam.

    5. Sebab mestilah wujud di dalam cabang sebagaimana ianya wujud di dalam asal, seperti menyakiti dalam memukul kedua ibu bapa yang diqiyaskan kepada menyebut "uf". Sekiranya sebab itu tidak wujud dalam cabang, tidak sah al-Qiyas tersebut. Contohnya dikatakan bahawa sebab pengharaman riba dalam gandum ialah kerana ianya tergolong dalam perkara yang ditimbang. Kemudian diqiyaskan kepadanya pengharaman riba dalam epal. Al-Qiyas ini tidak sah kerana sebabnya tidak wujud dalam cabang kerana epal bukanlah tergolong dalam perkara yang ditimbang.

    Jenis-jenis al-Qiyas (Penyamaan)
    Al-Qiyas terbahagi kepada dua iaitu jelas dan tersembunyi, seperti berikut:

    1- Al-Qiyas al-Jali (Jelas) ialah al--Qiyas yang sebabnya sabit dengan nas atau al-Ijma' atau sebabnya amat jelas dan pasti kerana tiada perbezaan antara asal dan cabangnya.

    Contoh : bagi al-Qiyas yang sebabnya sabit dengan nas ialah larangan bersuci dengan darah kering yang najis diqiyaskan kepada larangan bersuci dengan tahi binatang. Sebab hukum asal sabit dengan nas di mana Ibnu Mas’ud telah datang kepada Nabi s.a.w. dengan membawa dua ketul batu dan tahi binatang supaya digunakan oleh Baginda s.a.w. untuk bersuci. Baginda s.a.w. mengambil dua ketul batu itu dan melemparkan tahi binatang itu seraya berkata:

    هَذَا رِكْسٌ.[5]
    Maksudnya: “Ini riks (najis).”

    Contoh bagi al-Qiyas yang sebabnya sabit dengan al-Ijma' ialah Nabi s.a.w. telah melarang seseorang Qadi daripada menghukum dalam keadaan marah.[6] Qiyas larangan Qadi menghukum dalam keadaan menahan air kecil kepada larangan menghukum dalam keadaan marah adalah merupakan al-Qiyas yang jelas kerana sebab bagi asalnya iaitu fikiran terganggu dan hati tidak tenteram telah sabit dengan al-Ijma'.

    Contoh bagi al-Qiyas yang pasti kerana tiada perbezaan antara asal dan cabang ialah larangan memusnahkan harta anak yatim dengan dipakai. Ini diqiyaskan kepada larangan memusnahkan harta anak yatim dengan dimakan, kerana adalah jelas bahawa tiada perbezaan antara kedua-duanya.

    2. Al-Qiyas al-Khafi (Tersembunyi): ialah al-Qiyas yang sebabnya sabit dengan al-Istinbat dan tidak dapat dipastikan ketiadaan perbezaan antara asal dan cabang.

    Contohnya: Pengharaman riba dalam al-ashnaan[7] diqiyaskan kepada pengharaman riba dalam gandum kerana sebabnya ialah kedua-duanya tergolong dalam perkara yang ditimbang. Sebab ini tidak terdapat dalam nas, ijmak dan bukan sebab yang pasti kerana tiada perbezaan antara asal dan cabang. Ini kerana ada kemungkinan dibezakan antara dua benda tersebut bahawa gandum tergolong dalam makanan manakala al-ashnaan tidak.

    Qiyas al-Syabah (Penyamaan seiras)

    Terdapat satu jenis al-Qiyas yang dinamakan Qiyas al-Syabah (penyamaan seiras). Maksudnya ialah terdapat satu cabang yang berada di antara dua asal yang berbeza hukum di mana cabang tersebut mempunyai iras dengan setiap satu daripada kedua-dua asal tersebut. Di sini cabang ini digolongkan kepada asal yang paling banyak iras dengannya.

    Contohnya: seorang hamba; adakah dia mempunyai hak memiliki iaitu dengan diqiyaskan kepada orang merdeka, atau adakah dia tidak mempunyai hak memiliki iaitu dengan diqiyaskan kepada binatang? Apabila kita melihat kepada dua asal ini iaitu orang merdeka dan binatang, kita dapati hamba tadi berada di tengah. Dari sudut sifatnya sebagai manusia yang berakal, diberi balasan pahala dan balasan dosa, diberi hak bernikah dan menceraikan; dia menyerupai manusia. Dari sudut sifatnya dijual beli, boleh digadai, diwakafkan, dihadiahkan, diwarisi dan boleh diuruskan seperti harta; dia menyerupai binatang. Sebenarnya kita dapati hamba itu dari sudut urusan kehartaan lebih menyerupai binatang. Dengan ini dia digolongkan kepada binatang. Jenis al-Qiyas ini adalah lemah kerana tidak terdapat sebab yang sesuai kecuali bahawa cabangnya seiras dengan salah satu asal dalam kebanyakan hukum-hukum di samping terdapat asal lain yang merebut keirasannya.

    Qiyas al-‘Aks (Penyamaan dari sudut berlawanan)

    Terdapat satu jenis al-Qiyas yang dinamakan Qiyas al-‘Aks (penyamaan dari sudut berlawanan). Maksudnya ialah penetapan lawan kepada hukum asal untuk cabang kerana wujudnya lawan kepada sebab hukum asal dalam cabang itu.

    Contohnya ialah hadith berikut:
    وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَأتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟
    قَالَ أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ فِيهَا وِزْرٌ فَكَذَلِكَ
    إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا.[8

    Maksudnya: Rasulullah s.a.w. telah bersabda “Dan di dalam urusan kemaluan seseorang kamu ada sedekah.” Sahabat berkata “Wahai Rasulullah, adakah sekiranya seseorang dari kami mendatangi syahwatnya, dia akan memperoleh pahala?” Jawab Baginda “Tidakkah kamu memerhatikan sekiranya dia meletakkannya di dalam urusan yang haram, bukankah dia memperoleh dosa; begitulah halnya sekiranya dia meletakkannya di dalam urusan yang halal, pasti dia memperoleh pahala.”

    Di dalam hadith ini, Rasulullah s.a.w. telah menetapkan bagi cabang iaitu persetubuhan yang halal, satu hukum yang merupakan lawan kepada hukum asal iaitu persetubuhan yang haram kerana wujudnya lawan kepada sebab hukum asal dalam cabang. Baginda telah menetapkan pahala bagi cabang kerana ianya adalah persetubuhan halal sebagaimana Baginda s.a.w. menetapkan dosa bagi asal kerana ianya adalah persetubuhan haram.

    Kandungan
    --------------------------------------------------------------------------------
    [1] Sahih Muslim, Kitab al-Shiyam, Bab Qadha' al-Shiyam 'an al-mayyit, No. 1938.
    [2] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Talaq, Bab Iza 'uridha bi nafy al-walad, No. 4893.
    [3] Sunan al-Tirmizi, Kitab al-Nikah, Bab Ma ja' la nikah illa bi wali, No. 1020. Hadith sahih, lihat Saih al-Jami' oleh al-Albani, No. 7556, 7557 dan 7558, juga Sahih Sunan al-Tirmizi oleh al-Albani, No. 1101. (penterjemah)
    [4] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Thalaq, Bab Khiyar al-amah taht al-'abd, No. 4874.
    [5] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Wudhu', Bab La yustanja bi rauts, No. 152.
    [6] Sahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam, Bab Hal yaqdi al-qadhi aw yufti wa huwa ghadhban, No.6625.
    [7] al-Ashnaan ialah sejenis tumbuhan wangi yang dikeringkan dan dihiris untuk dijadikan bahan pembersih (seperti serbuk sabun).
    [8] Sahih Muslim, Kitab al-Zakah, Bab Bayan anna ism al-shadaqah yaqa' 'ala kull nau', No. 1674.

    Iklan

    Renungan

    Tanpa Kepedihan dan Kesengsaraan Kita Akan Membuang Perkara Yang Indah Dengan Sia-Sia Sahaja Tanpa Memberi Kesan Kepada Iman Kita Renungkanlah ... Ingatilah Nabi Adam a.s Sehingga Nabi Muhammad s.a.w Berjaya Atas Kepedihan dan Kesengsaraan Yang Lebih Hebat Dari Kita ... Maka Itu Kesabaran Sahaja Yang Membentengkan Kita Untuk Kita Tidak Terkeluar Dari Landasan...

    I Hate Israel

    Zionists in Israel Doing With Severe and extreme violence
    Why do we Muslims and Muslimat just let them continue to suffer
    Which we love them though God has given this love as our weapon to subvert the Zionist Israel
    Not enough just to pray, shout anti Israel boycott their goods and making protest signs protest their atrocities.
    We need to unite regardless of status, race, mentality, national and political as well as Muslim and Muslimat Let us together to destroy and overthrow the Jews of Israel continued the beatings our brothers in Palestine
    Let not our guard again, it emerged as the Sultan Salahuddin Ayub in Jerusalem.
    Remember we have the golden age of Islam were we take the history of the Prophet in all previous wars are the strategy for eliminating the al-Kafirun the plight of Muslims before
    Do not just let it alone and wait for God to help us we need to pray, work, effort and puteri. Then we wait for God's blessings on our efforts.

    Ingatan Kalian dan JiwaIslam

    Nature Future

    Nature Future
    Menjana Pendapatan

    Job At Home

     

    Elken

    Elken
    Jana Pendapatan

    Bicara Secara Maya

    Halwa Jiwa Islam 1

    لامن جيوا دان نوراني إسلام Copyright © 2009 Community is Designed by Bie